Nangis aja kemudian nangsi banget baca ini:
Monolog Diriku tentang Jilbab
Aku yang sekarang tak pernah terbayang oleh aku beberapa tahun yang lalu, terlebih tentang apa yang aku pakai. Dan percayalah, tidak ada satu pun temanku yang kelakuannya lebih mengerikan dari aku yang dulu. Aku termasuk orang yang sering berpikiran miring tentang wanita sholihah berjilbab lebar dan tak mau disentuh oleh lelaki yang bukan mahramnya. Banyak sekali pikiran memprihatinkan dibenakku saat itu.
Tentang jilbab, aku tahu itu suatu kewajiban bagi setiap hamba dari sang Maha Pengasih. Dan aku tahu aku pasti menunaikannya suatu saat. Tapi saat itu yang terpikir olehku bukanlah jilbab yang seharusnya, melainkan hanya selembar kain yang menutupi kepala hingga leher. That’s all.
Setelah mengalami banyak peristiwa yang menguras batin, dan setelah semakin jauh perjalananku, aku semakin sadar bahwa pikiranku selama ini salah. Bahwa apa yang aku gunakan tidak sama sekali dapat dikatakan cukup memenuhi kebutuhanku sendiri. Sekarang aku sedang dalam perjalanan untuk memperbaiki segalanya. Apa yang aku pakai sekarang lebih aku tujukan untuk menghargai dan menghormati diriku sendiri sebagai seorang perempuan bermartabat dan beradab. Bersentuhan dengan yang bukan mahram pun aku kurangi demi menghormati diriku.
Alasan lainnya karena aku mengharapkan seorang imam yang terbaik dari Yang Maha Penyayang. Dan hampir semua orang tahu bahwa hanya perempuan baik-baik yang pantas mendapatkan lelaki baik-baik. Itu jelas tercantum dalam Al-Qur’an, jadi jelas tak ada yang dapat membantahnya. Alasan terakhir yang paling menguatkan aku untuk bertahan dalam perjalanan ini adalah cinta, cintaku pada lelaki-lelaki yang bertanggung jawab atas diriku. Mereka adalah ayah, saudara laki-laki, suami dan anak lelakiku. Aku tidak ingin menambah beban kakak-kakakku, dan aku pun tidak ingin kelak menjadi istri dan ibu yang menyusahkan suami dan anak lelakiku, yang walaupun belum berwujud nyata, tapi pasti akan sangat aku cintai.
But most of all, cintaku kepada almarhum ayahku. Aku yakin beliau sudah tenang di sana. Dan untuk kalian ketahui, kepergian ayahku tidak pernah mengurangi cintaku untuknya, bahkan justru semakin memperjelas kecintaanku padanya. Semenjak dia menghadap Allah, aku semakin sering berdo’a untuknya, meningkatkan ibadah dan berusaha menjaga dan membahagiakan ibuku untuknya. Dan tentang diriku saat ini, dialah alasan terkuat. Aku sungguh mencintainya dan tak ada satupun hal yang dapat aku lakukan untuk membuktikan itu selain menjaga kehormatannya dan menjadi anak yang sholihah demi kebahagiaannya.
Bagi kalian anak perempuan dari semua ayah, percayalah kalian pasti akan menyesal seperti aku dulu saat menghadapi kenyataan tak dapat menunjukkan cinta kepada ayah saat ia masih bernafas. Tapi percayalah kalian tidak akan menyesal saat kalian tahu bahwa kesempatan menjadi anak yang sholihah tidak akan pernah tertutup. Maka dari itu, perbaikilah apa yang belum baik, tingkatkan apa yang sudah baik, setidaknya demi mereka yang kita cintai :)
Dear bapak, maafin anakmu yang sering pulang malem saat tetangga depan rumah lagi ngadain pengajian :'(
Maaf untuk saat ini cuma bisa minta maaf.