Bro, aku sedih aja kemarin nggak bisa ikut temen-temen enjoying short holiday ke semarang. Ini semua karna satu hal, buku laporan Sistematika Tumbuhan ku hilang. H I L A N G. Itu artinya aku harus tulis ulang laporan bapuk ini *kemudian suara tulis ulang menggema di langit2 kamar*. Kalian harus tau, buku ini berisi laporan tulis tangan 10 acara praktikum yang tiap praktikum ada kurang lebih 10 spesimen tumbuhan dan tiap spesimen kamu harus gambar, nulis keterangan, klasifikasi dan deskripsi dari spesimen tersebut, belum lagi rumus bunga, kalian baru tau kan kalo bunga ada rumusnya? Oke hanya anak biologi yang ada mata kuliah liat-liat bunga semacam ini. Bro, buku ini semacam sedikit lebih berharga dari korek kuping kesayangan yang hilang 1 tahun silam. Aku nggak habis pikir sampe sekarang. Plis aku nggak abis pikir lagi kenapa harus buku aku yang ilang? Kenapa bukan Pratama Adi aja, orang paling sak-sak-e sedunia. Dan yang paling nggak abis pikir lagi saat orang-orang bilang: 'Ilang dimana?' HELLO kalo aku tau dimana ilangnya itu namanya bukan ilang guob... Nggak jadi misuh. FYI, itu tadi aku mau misuh guoblok.
Lalu pada suatu hari aku konsultasi ke asisten, dan aku mencoba melobi dengan muka yang seadanya, aku minta dikasih nilai minimal tanpa harus tulis ulang dan ternyata kata dia, 'Nggak, aku nggak bisa nilai kalo hasil laporanmu nggak ada.' Berasa dijejeli lencung. Aku nyesek men, najis banget nggak nyesek untuk hal-hal semacam ini.
Aku terima takdir ini, dengan langkah terseok-seok aku memasuki ruangan BEM. Aku mulai meggaris tepi buku laporan yang masih kosong dengan gondok. Kenapa bahasanya jadi kaya bahasa novel-novel melow nggak laris gini? Intinya aku mangkel abis karna harus nulis gambar deskripsi lalayeye lagi, trus aku satu semester ini ngapain? Enempuluh lembar tulis ulang men, asu nggak nih. Asu aja tapi bukan asu banget. Lalu aku mikir, aku tolol banget misuh-misuh nggak jelas, apa dengan misuh kemudian pulpen bisa jalan sendiri dan dalam sekejap semua selesai? Ini proses sampe aku sadar semua ini harus dijalani dengan ikhlas sabar dan lapang dada. Hore aku dewasa. Work with all of your heart and everything will be simple. Singkat tapi memang susah untuk manusia ababil setaraf aku, kayanya aku harus ambil mata kuliah menejemen emosi nih. Nice try. Atau ikutan seminar 'How to Make Your Heart and Mind Work Together'. Bisa ditampung.
Yang lebih lucu lagi waktu aku sms ngeluh kenapa bukunya tipis banget dengan bahasa yang nggak sopan banget tentunya, lalu asisten menjawab, 'Masih mending ditoleransi, kalo aku mau lebih kejem, kamu cari surat kehilangan buku dari polsek.' Kemudian terdengar suara ayam-ayam tetangga ketawa. Ini HELLO yang kedua kalinya.
Trimakasih sebesar-besarnya untuk Tuhan Yang Maha Esa, aku tau mungkin ini rangkaian dari rencana-Mu dalam proses mendewasakan aku. Maaf kalo aku sok tau.
Trimaksih yang kedua untuk asisten berinisial Dian yang dalam insiden ini berperan sebagai agen penguji emosi dan teman-teman BEM yang kemaren berperan sebagai penetralisir keadaan, ekting kalian bagus dan tanggap!
Terakhir trimakasih untuk pemeran utama, buku laporan ST yang sampe sekarang entah berada dimana.
Aku tau aku lebay, ini cuma masalah kehilangan buku aja kaya kehilangan sesuatu yang sangat-sangat berharga misalnya korek kuping, maaf aku memang lebay dan nggak lucu. Bye.










