Nggak ngerti lagi akhir-akhir ini, sebenernya akhir-akhir semenjak abis lulus dari SMA Semi Pondok Pesantren tercinta hubunganku dengan Sang Pencipta mulai random. Mulai dari sholat nggak tepat waktu, sholat nggak khusyuk dan kadang malah mikirin dan ngebayangin yang enggak-enggak waktu sholat, suka kadang sok sok an lupa belum sholat kalo lagi jalan sama temen padahal emang nglupain dan niat mau jamak sholat, HELO jama’ sholat cuma gara-gara have fun hang out doang? Sepertinya setan sedang puas menyetubuhiku waktu itu. Doa abis sholat ala kadarnya, istighfar 3 kali langsung minggat nyariin remote nyariin hp. Udah jarang banget bangun malem sujud doa nangis-nangis kaya dulu waktu masih nyantren, ngaji juga cuma kalo inget aja. Dewasa ini udah jarang banget ngrasa diawasi sama malaikat, bukan ngrasa nggak diawasin tapi lebih tepatnya mulai menanamkan semacam doktrin ‘dosa dikit nggak apa namanya juga manusia ini nggak luput dari khilaf’ maafin aku malaikat pencatat amal. Mungkin di luar sana, udah nggak mungkin lagi tapi pasti di luar sana masih banyak banget banget banget orang-orang yang menyepelekan aktivitas ruhaniyah semacam ini, nggak usah jauh-jauhlah liat aja diri sendiri.
Kalo menurut teori harusnya semakin kita dewasa semakin bisa mengendalikan diri dan tentu saja semakin kokoh iman kita. Iman bukan sekedar kepercayaan, ini menyangkut prinsip hidup. Kalo hanya sekedar menahan nggak nyomot cemilan di ruang tamu saat bulan puasa pasti kita semua bisa, tapi bisakah kita menahan godaaan untuk hal-hal yang lain dalam lingkup yang lebih luas. Mari sama-sama kita berintrospeksi.
Sudah seberapa sering kita mencontek waktu ujian? Seberapa sering mata kita melihat sesuatu yang tak seharusnya kita lihat? Seberapa sering mulut ini memfitnah dan bergunjing? Seberapa sering kaki ini dilangkahkan menuju tempat kemaksiatan? Seberapa sering shalat kita tinggalkan? Seberapa sering kita melanggar syariat-Nya dan mengabaikan perintah-Nya? Padahal kita tahu benar jika yang kita lakukan itu dilarang syariat. Namun kita lebih memilih mencari dalih daripada berjuang untuk taat. Apakah kita masih menganggap bahwa tidak ada yang melihat kita melakukan dosa itu? Lalu dimanakah Allah? Lalu dimanakah iman? Padahal mau nggak mau kita pasti sadar tentang aturan main di dunia ini yang udah sangat gamblang. Kita harus menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sampai malaikat Izrail mencabut nyawa kita. Sebagai balasannya Allah akan memberikan surga dengan kenikmatan luar biasa yang tak pernah terindra oleh mata dan tak pernah terbayang dalam angan-angan. Sesimpel itu. T e o r i n y a.
Tapi ternyata banyak dari kita yang tidak cukup dewasa untuk bisa menahan cobaan berupa hawa nafsu yang indah itu sehingga tertipu dengan kenikmatan dunia yang semu. Termasuk aku, termasuk banget. Padahal bukankah surga itu begitu menggiurkan? Ataukah kita merasa cukup dengan sampah dunia sehingga mengabaikan kehidupan di akhirat kelak? Sungguh mengerikan twips. Sungguh ada yang salah dengan otak kita jika masih dunia yang kita kejar-kejar. Sungguh ada yang rusak dengan iman kita jika surga tak lagi mampu membuat kita mati-matian menahan diri di dunia agar bisa meraihnya. Sungguh, betapa jauh kedewasaan dan betapa rendah kita punya iman. Mungkin secara kuantitatif dari segi usia kita sudah dewasa, tapi secara kualitatif kita tak ubahnya seperti anak kecil. Menyedihkan.
Bersyukur banget Tuhan kita Maha Pengampun. Nggak ada kata terlambat sebelum nyawa diangkat. Jika kita bener-bener bertaubat, Allah berkenan memaafkan dan mempersilakan kita kembali untuk berlaga di arena memperjuangkan janji surga. Dan semoga di bulan Ramadhan kali ini tidak sia-sia dan bisa menjadi sarana penggemblengan agar kita menjadi pribadi yang benar-benar dewasa. Kedewasaan yang menghujamkan iman dalam hati dan membuat kita bertindak dalam koridor aturan main (syariat) Allah, bukan dikendalikan oleh hawa nafsu yang membuat kita merugi selama-lamanya.
Satu lagi, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang pintar berteori saja. Amin.



