February 17, 2014

Terjebak di Negara Jin - Banyuwangi

Minum kopi dulu kalo mau baca, aturannya boleh ngantuk nggak boleh tidur.
Hello, how's your holiday? Mine? Is absolutely cool. So many people said that im going to somewhere with my funny boyfriend and we do something called honeymoon. Huft, how many times should i tell you guys that im still ori and fully equipped with all of spare parts i have. Its oke, its not the main problem of my life, thanks for not judging me again.
Maybe you think, Wots? Banyuwangi? What will you do there? Is there any beautiful place to visit? Hmm, you don't say. You know, we found some little pieces of heaven here. Kemudian tiba-tiba pake bahasa Indonesia. 

Sebelumnya kalian tau nggak sejarah kota banyuwangi? Pura-pura nggak tau aja biar aku ceritain. Jadi jaman dahulu kala ada seorang putri bernama Sri Tanjung. Dia sedang hamil akibat perbuatan suaminya namanya Raden Bantrerang, namun sayang suaminya yang nggak tau diri itu mengira kalau janin dalam rahim si putri sinden panggung itu bukan hasil pembuahan dari spermanya melainkan hasil perselingkuhan dengan pak RT (Sori lebay jaman dulu belum ada RT). Lalu si suami membawa istrinya ke sunga dan berniat membunuh putri cantik yang malang itu dengan sumpah "Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang janin ini bukan anakmu tapi jika berbau harum maka janin ini adalah anakmu". Dasar lelaki tokek belang bilang aja alibi biar bisa kawin lagi (Jadi dia itu manusia apa tokek sih? Maaf nggak lucu). Kemudian setelah dibunuhnya putri yang cantik itu maka mengalirlah darah ke sungai yang berbau wangi, dari situlah asal muasal kota Banyuwangi. Lebih malang lagi sekarang si putri menjelma menjadi kereta api...

Hari pertama we're going to Kali Bendo. Sebelum sampe ke Kali Bendo ini kita lewat di daerah rumah adat suku Osing, suku asli Banyuwangi bro, rumahnya lucu-lucu bro, model depan rumahnya hampir sama semua trus memanjang ke belakang, kaya rumah-rumah tua belanda lucu-lucu banyak hantunya gitu bro. Oke, jadi Kali Bendo itu adalah air tejun yang masih alami banget. Terletak di PT perkebunan Kali Bendo Glagah yang jaraknya 25 km dari Kota Banyuwangi. Derah ini masih berada pada jalur perjalanan utama menuju gunung Ijen. Airnya bro segar dingin nggak pake madu, udaranya suejuk, dan masih berdinding semacam taneman purbakala gitu hih serem2 seger. Untuk sampai ke air terjun utama jangan kira tinggal nyebrang dari tempat parkir trus sampe, kita harus trekking dulu kurang lebih 20 menit normalnya, untuk ukuran orang gendut ya kira2 dua hari trekking haha. Tapi ati2 bro banyak monyet berkeliaran dan siap menyambar jiwa-jiwa yang jomblo HAHAHAHA. Oiya satu lagi selain monyet kalian bakal nemuin banyak mesum corner. Huh nggak modal banget mesum di hutan. 

 Air terjun utama Kali Bendo

 Mandra dan Atun 

Anak sungai Kali Bendo yang nggak kalah seger

Adit sang pencerah

Next day, berangkat kita ke Pulau Merah. Jaraknya 60km dari kota Banyuwangi, ya sekitar 2,5 jam lah. Pulau Merah adalah sebuah pulau berbentuk bukit kecil dekat pantai dengan pantai berpasir putih dan tanah yang warnanya merah. Jaraknya ya kurang lebih 15 m dari bibir pantai, itu kalo surut. Masih segaris sama pulau merah itu ada rumah pohon yang diiket di pandanus yang bentuknya you know lah, kalo udah nongski disitu bakal betah banget karna angin sepoi-sepoi dan pemandangannya yang spektakuleeeer. Yang bikin aku terkejut tak berdaya di pantai ini yaitu harga kelapa muda Rp 15rb bro, 2 kali lipat dr harga kelapa muda termahal di Jogja, padahal banyak pohon kelapa disana. Huh berasa ditipu. Oiya kalau lagi pasang banyak bule hitam maupun bule putih surfing disini, bagi kamu yang nggak punya papan selancar aku saranin bawa papan tulis aja lumayan buat payungan, panasnya pantai banget bro~
Dari google sob

 Adit- Pacar aku yang lucu- Trias yang mirip nekong

 Duh celananya itu lho, ijo

Awas ada anak gaul

Hayo tebak ini punggung atau perut?

Entah hari ke berapa, the next destination is Alas Purwo. Tempat yang terlalu sakral untuk diceritakan. Untuk bisa sampai Alas Purwo ini harus melewati hutan dengan jalanan yang berhasil bikin pantat panas dan hampir keluar ampasnya, setelah melewati hutan mulu sampe bego baru ketemu gerbang Alas Purwo, ya, baru gerbangnya. Cuma dengan bayar tiket masuk 3rb rupiah bro kalian bisa sepuasnya njelajahin hutan yang bau menyan itu. Hii. Di hutan ini kalian bisa nemuin banyak pura sakral yang masih sering dipakai umat hindu untuk beribadah, trus ada tempat namanya Sadengan semacam padang rumput luaaas banget yang kalo sore banyak banteng sapi dan saudara-saudaranya pada ngumpul semua disitu, berasa di Afrika gitu. Trus ada pantai juga yang tentunya sakral. Yang paling sakral dari semua tempat disini adalah goa. Menurut warga sekitar, Kawasan Taman Nasional Alas Purwo mempunyai banyak goa, hingga saat ini terdidentifikasi ada 44 buah goa. Wisata Goa yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo diantaranya Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Basori dan Goa Jepang. Goa-goa itu tidak bisa ditempuh dengan kendaraan, hanya boleh jalan kaki paling deket 2km. Konon katanya di goa Istana adalah tempat disimpannya harta Bung Karno dan Bung2 lainnya, makanya banyak orang bertapa disini biar sakti dan bisa menembus ke dimensi kehidupan lain trus ngambil harta itu. Ada yang bertapa saking saktinya sampe nggak bisa dilihat secara kasat mata. Orang kesini macem2 tujuannya, ada yang sekedar piknik, ada yang bawa keluarganya sekampung bawa wajan kompor dsb nggak tau mau lomba masak tingkat RT kali, ada yg jauh-jauh kesini mau cari pesugihan dsb. Gilee yang ada merinding doang disini. Di deket basecamp ini ada pantai bro, dan yang paling pecah baru kali ini nemuin ada kijang di deket pantai. Satu lagi, kita ketemu sama dewanya pertapa disini, udah 30 tahun bro di goa gila lo ngapain aja mas, jenggot sama rambutnya udah kaya pendekar di film Mak Lampir. Masih banyak bro tempat-tempat indah kaya TN Baluran, TN Meru Betiri, wilayah konservasi penyu Sukamade, G-Land, Teluk Penyu, Gunung Ijen, banyak deh next time lah harus kesini lagi.


 Maaf mbak itu paha atau penampakan ular piton

 Salah satu pura yang ada di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo, masuk nggak ya
 Sadengan, yang kaya di afrika itu~

 Cie seneng banget liat aku :3

 Persahabatan kijang dan anak gajah

Baru kali ini 2 minggu liburan ke luar kota dan ngerasa pengen cepet-cepet pulang. Ternyata yang namanya liburan itu ada jenuhnya juga bro, nggak melulu seneng-seneng, belanja-belanja, foto sana foto sini pamerin ke temen biar iri, makan yang enak-enak, habis itu udah. Di rumah bentar udah gatel aja pantatnya pengen going samwer, giliran udah pergi akhirnya kangen juga sama rumah walaupun di rumah ya nggak dibutuhin amat. Maklum masih manusia. Ya walaupun liburan kali ini belum sempet diving lucu sama ikan hiu yang segede gaban itu setidaknya waktuku nggak habis cuma buat scroll atas scroll bawah keypad bb. Finally I know why birds stay in the same place when they can fly everywhere on the earth.

The most precious momment is when we meet Adit and his strong mom. Ibunya Adit yang nggak kenal kata capek buat kerja keras. Bagi beliau, strength is life and weakness is death. Makasih buat Adit dan ibunya yang udah mau direpotin kasur dan beras dan kering tempe yang enak banget itu dan jajanan toko asal comot dan seeemuanya. Makasih juga buat Trias temennya Adit yang mirip nekong ituh. Thanks to pacar akuh yang lucu kaya ikan fugu, nggak ngerti isi dalem perutmu apa kok bisa sabar banget jadi orang. 
Orang tu beda-beda, kadang ada yang udah keliling dunia tapi nggak ada passion buat nulis, kadang ada juga yang baru kemana dikit nulisnya udah heboh banget contohnya aku. Nggak papa itung2 nyiapin cerita buat anak cucu :") 

February 10, 2014

Another Bored Story

Memang nggak sia-sia pernah pasang bio di twitter "muda senang-senang tua kaya raya mati masuk surga" karena bio twittermu adalah doa. Setelah berplesir ria bersama pacar aku yang lucu di Banyuwangi, aku berkesempatan ikut survey ekspedisi KSK tercinta di Lombok. Tapi plis ini adalah bulan dimana angin dan ombak lagi sehat-sehatnya jadi keinginanku untuk senang-senang aja dan bodo amat dengan kegiatan survey sepertinya gagal. Mulai penyebrangan dari pelabuhan Padang Bai sudah dimabokkan sama gadis-gadis bali yang jualan di dalem kapal sambil bokongnya edal edol. "Chicken rice chicken rice... I have benana... Original prut prom Bali...".  Lucu banget rasanya pengen bungkus bawa pulang buat pajangan di kamar. Masalah ombaknya? Jangan ditanya bule aja sampe muntah-muntah. 

Oke singkat cerita malam itu kita menginap di rumah mas Hilman, pendiri sekaligus dedengkot KSK yang sekarang jadi dosen di UNRAM. Sempet nangis malem itu karna kangen bingit sama pacar aku yang lucu itu oke i know this is kind of lembek. Singkat cerita lagi sampailah kita di Lombok Timur tepatnya di KKLD Desa Sambelia yang aku nggak pernah hafal kepanjangannya apa. Sampai disana terkaget-kaget karena di bayangan kita adalah hamparan pasir putih yang luas serta gradasi warna laut yang megah, taunya berasa di Parang Tritis. Pasir hitam dan ombaknya besar, ternyata daerah tersebut merupakan muara dari sungai dan habis kebanjiran dari Gunung rinjani. Keseokan harinya karena nenek moyang kita seorang pelaut yang gemar mengarung luas samudra kita beranikan diri untuk menyeberang ke Gili Sulat dan Gili Lawang naik kapal cadik milik nelayan yang mungkin sedang banyak hutang dan berniat mengakhiri hidupnya waktu itu. Pagi itu memang cuaca masih cerah. Sekitar 45 menit kita sampai di Gili Lawang yang merupakan kawasan Mangrove dengan komposisi 10% mangrove dan 90% daratan. Bisa kali ya kapan hari ngecamp disana tapi kulakan nyali dulu. Gili Sulat sebaliknya terdiri dari 90% mangrove dan sisanya daratan. Tidak jauh dari situ kita bisa diving atau sekedar snorkeling karena terumbu karangnya yang eksotis itu hanya sebatas satu jengkal dari dada dan bisa terlihat dari kapal, disini kamu bisa nemuin fungia segede meja makannya pak presiden! Ditambah dengan latar belakang Gunung Rinjani yang tertutup awan-awan putih tidak berdosa itu boooh sungguh-sungguh terjadi ini. Luar biasa. 

Semua berubah ketika negara angin menyerang. Dalam perjalanan pulang ke basecamp di tengah laut tiba-tiba mesin mati, langit gelap, dan ombaknya besar. Dua nelayan itu yangberbicara bahasa Lombok nggak ngerti apa sepertinya mengisyaratkan bahwa kapal akan tenggelam dan kita harus berenang sampai ke tepi, Pak Muhsidin (gaet kami) pun sudah bersiap menyelamatkan rokok dan hpnya. Ini adalah saat-saat paling menyenangkan dalam hidup. Sempet ngayal  bakal dimakan sama Loch Ness monster laut yang mengerikan itu lalu muncul kapal Black Pearl dan aku diselamatkan oleh Kapten Jack Sparrow lalu diajak nikah dan hidup bahagia selamanya. Oke ini freak setidaknya kalo aku mati masih dalam keadaan senang bergembira. Berkat doa dari teman-teman yang entah mungkin ada yang berdoa mau makan atau buka puasa akhirnya mesin nyala dan hore sampailah kita. Berasa jadi nelayan heroik yang selamat dari dari badai mematikan. Oke freak lagi nggak apa. 

Singkat cerita untuk ketiga kalinya perjalanan berlanjut ke Lombok Barat, Sekotong. Berjumpa lagi dengan dermaga BBL, pulau kecil di sebelah kiri dermaga, Bulu Babi yang asik bergerombol di bawah dermaga, warung inyong di sebelah barat balai, pak Arsyad yang makin gendut dan pipinya tebel kaya pacar aku yang lucu, bu Arsyad yang sepanjang hari kami disana ngomel karena tidak pernah diajakin nonton bokep sama pak Arsyad dengan alasan bokep adalah film pembunuhan haha bener memang, pembunuhan akal sehat karena setelah menontonnya dapat mengakibatkan timbulnya hal-hal yang diinginkan contohnya masturnananina. Oke sensor yang kurang efektif sepertinya. 

Inget kata traveller kaskus, 'Absorb everything when you travelling, so you can be more wise' termasuk kelakuan temenmu yang kadang bikin gedek dan minta ditampol pake semangka. Contohnya si Fikri item yang keras kepala dan nggak mau kalah, banyak pengalaman bikin dia selalu punya cerita untuk dipamerkan dan paling sering kepergok sedang galer. Kang Zusron yang nggak mau sok tau dan bisa menilai sesuatu dengan apa adanya sehingga mambuat dia ada apanya. Si Hanung yang diem aja tapi sedang memikirkan banyak hal atau mungkin sedang mencari sisa makanan di behelnya atau bisa jadi sedang menghindari bulian Fikri yang kejam. Nida yang kelihatannya tidak pernah pergi jauh-jauh ketemu apa dikit bilang 'ih bagus banget' atau 'ih sosweet banget' dan jadi sasaran empuk bullying lagi-lagi sama si Fikri item yang suka galer. Belum lagi si Irfan yang 11/12 sama Fikri, kadang sok tau walaupun memang beneran tau tapi penyampaiannya yang nggak semua orang bisa nerima jadi jatuhnya lebih ke sok tau, cocoklah mereka berdua ngebuli Nida dan Hanung. Aku disini (seperti biasa) menjadi penggembira dan sok-sok an jadi penengah antara kubu Fikri dan kubu Hanung padahal sering ikutan ngebuli Nida gara-gara dia berisik banget kaya nenek-nenek nyuruh cucunya pake popok. Tapi yah that's all, everybody has their own character. Nggak ada yang salah, yang penting tetep peace dan nggak saling gigit-gigitan sempak.

Oke itu tadi sepenggal kisah mematikan dari Lombok Timur, dan sedikit kenangan tentang Lombok Barat dua tahun silam. Bercerita tentang laut memang tidak akan pernah ada habisnya, dia tidak pernah menjanjikan kedamaian tapi dia selalu bisa membuatmu biru.
Sukses untuk ekspedisi tahun ini, salam #SatuNyali!

 

Template by Best Web Hosting