Memang nggak sia-sia pernah pasang bio di twitter "muda senang-senang tua kaya raya mati masuk surga" karena bio twittermu adalah doa. Setelah berplesir ria bersama pacar aku yang lucu di Banyuwangi, aku berkesempatan ikut survey ekspedisi KSK tercinta di Lombok. Tapi plis ini adalah bulan dimana angin dan ombak lagi sehat-sehatnya jadi keinginanku untuk senang-senang aja dan bodo amat dengan kegiatan survey sepertinya gagal. Mulai penyebrangan dari pelabuhan Padang Bai sudah dimabokkan sama gadis-gadis bali yang jualan di dalem kapal sambil bokongnya edal edol. "Chicken rice chicken rice... I have benana... Original prut prom Bali...". Lucu banget rasanya pengen bungkus bawa pulang buat pajangan di kamar. Masalah ombaknya? Jangan ditanya bule aja sampe muntah-muntah.
Oke singkat cerita malam itu kita menginap di rumah mas Hilman, pendiri sekaligus dedengkot KSK yang sekarang jadi dosen di UNRAM. Sempet nangis malem itu karna kangen bingit sama pacar aku yang lucu itu oke i know this is kind of lembek. Singkat cerita lagi sampailah kita di Lombok Timur tepatnya di KKLD Desa Sambelia yang aku nggak pernah hafal kepanjangannya apa. Sampai disana terkaget-kaget karena di bayangan kita adalah hamparan pasir putih yang luas serta gradasi warna laut yang megah, taunya berasa di Parang Tritis. Pasir hitam dan ombaknya besar, ternyata daerah tersebut merupakan muara dari sungai dan habis kebanjiran dari Gunung rinjani. Keseokan harinya karena nenek moyang kita seorang pelaut yang gemar mengarung luas samudra kita beranikan diri untuk menyeberang ke Gili Sulat dan Gili Lawang naik kapal cadik milik nelayan yang mungkin sedang banyak hutang dan berniat mengakhiri hidupnya waktu itu. Pagi itu memang cuaca masih cerah. Sekitar 45 menit kita sampai di Gili Lawang yang merupakan kawasan Mangrove dengan komposisi 10% mangrove dan 90% daratan. Bisa kali ya kapan hari ngecamp disana tapi kulakan nyali dulu. Gili Sulat sebaliknya terdiri dari 90% mangrove dan sisanya daratan. Tidak jauh dari situ kita bisa diving atau sekedar snorkeling karena terumbu karangnya yang eksotis itu hanya sebatas satu jengkal dari dada dan bisa terlihat dari kapal, disini kamu bisa nemuin fungia segede meja makannya pak presiden! Ditambah dengan latar belakang Gunung Rinjani yang tertutup awan-awan putih tidak berdosa itu boooh sungguh-sungguh terjadi ini. Luar biasa.
Semua berubah ketika negara angin menyerang. Dalam perjalanan pulang ke basecamp di tengah laut tiba-tiba mesin mati, langit gelap, dan ombaknya besar. Dua nelayan itu yangberbicara bahasa Lombok nggak ngerti apa sepertinya mengisyaratkan bahwa kapal akan tenggelam dan kita harus berenang sampai ke tepi, Pak Muhsidin (gaet kami) pun sudah bersiap menyelamatkan rokok dan hpnya. Ini adalah saat-saat paling menyenangkan dalam hidup. Sempet ngayal bakal dimakan sama Loch Ness monster laut yang mengerikan itu lalu muncul kapal Black Pearl dan aku diselamatkan oleh Kapten Jack Sparrow lalu diajak nikah dan hidup bahagia selamanya. Oke ini freak setidaknya kalo aku mati masih dalam keadaan senang bergembira. Berkat doa dari teman-teman yang entah mungkin ada yang berdoa mau makan atau buka puasa akhirnya mesin nyala dan hore sampailah kita. Berasa jadi nelayan heroik yang selamat dari dari badai mematikan. Oke freak lagi nggak apa.
Singkat cerita untuk ketiga kalinya perjalanan berlanjut ke Lombok Barat, Sekotong. Berjumpa lagi dengan dermaga BBL, pulau kecil di sebelah kiri dermaga, Bulu Babi yang asik bergerombol di bawah dermaga, warung inyong di sebelah barat balai, pak Arsyad yang makin gendut dan pipinya tebel kaya pacar aku yang lucu, bu Arsyad yang sepanjang hari kami disana ngomel karena tidak pernah diajakin nonton bokep sama pak Arsyad dengan alasan bokep adalah film pembunuhan haha bener memang, pembunuhan akal sehat karena setelah menontonnya dapat mengakibatkan timbulnya hal-hal yang diinginkan contohnya masturnananina. Oke sensor yang kurang efektif sepertinya.
Inget kata traveller kaskus, 'Absorb everything when you travelling, so you can be more wise' termasuk kelakuan temenmu yang kadang bikin gedek dan minta ditampol pake semangka. Contohnya si Fikri item yang keras kepala dan nggak mau kalah, banyak pengalaman bikin dia selalu punya cerita untuk dipamerkan dan paling sering kepergok sedang galer. Kang Zusron yang nggak mau sok tau dan bisa menilai sesuatu dengan apa adanya sehingga mambuat dia ada apanya. Si Hanung yang diem aja tapi sedang memikirkan banyak hal atau mungkin sedang mencari sisa makanan di behelnya atau bisa jadi sedang menghindari bulian Fikri yang kejam. Nida yang kelihatannya tidak pernah pergi jauh-jauh ketemu apa dikit bilang 'ih bagus banget' atau 'ih sosweet banget' dan jadi sasaran empuk bullying lagi-lagi sama si Fikri item yang suka galer. Belum lagi si Irfan yang 11/12 sama Fikri, kadang sok tau walaupun memang beneran tau tapi penyampaiannya yang nggak semua orang bisa nerima jadi jatuhnya lebih ke sok tau, cocoklah mereka berdua ngebuli Nida dan Hanung. Aku disini (seperti biasa) menjadi penggembira dan sok-sok an jadi penengah antara kubu Fikri dan kubu Hanung padahal sering ikutan ngebuli Nida gara-gara dia berisik banget kaya nenek-nenek nyuruh cucunya pake popok. Tapi yah that's all, everybody has their own character. Nggak ada yang salah, yang penting tetep peace dan nggak saling gigit-gigitan sempak.
Oke itu tadi sepenggal kisah mematikan dari Lombok Timur, dan sedikit kenangan tentang Lombok Barat dua tahun silam. Bercerita tentang laut memang tidak akan pernah ada habisnya, dia tidak pernah menjanjikan kedamaian tapi dia selalu bisa membuatmu biru.
Sukses untuk ekspedisi tahun ini, salam #SatuNyali!