Banda Neira Maluku Tengah, ditempuh 8 jam dari Ambon dengan kapal Tidar sang pembawa peradaban.
Ngobrol
soal pengabdian masyarakat ibarat orang mau pergi ke kampus, KKN yang cuma 2
bulan ini adalah baru manasin motor, belum apa-apa. Masih harus ngelapin motor,
isi bensin ke pom, mampir makan di warteg sebelah pom, belum ke indomaret beli
minuman dingin, belum di jalan ketemu banyak bis kota yang kesetanan, belum
lagi kena lampu merah yang merah terus. Masih banyak hal yang harus dilalui. Masih
harus banyak belajar lagi tentang bagaimana mendengarkan, menjaga omongan,
tidak menyakiti dan tidak sok pintar. Umur masih muda, perjalanan masih panjang
bro, kalo kata Mario Teguh bertindak dan kemudian salah lebih pasti memperbaiki
diri daripada melapuk gelisah dalam keraguan. Bro, keberhasilan KKN ini bukan
dinilai dari seberapa banyaknya program yang berhasil disosialisasikan untuk
masyarakat, ini tentang perjalanan hati dan emosi, yang terpenting adalah
bagaimana kita memaknai setiap detik waktu bersama mereka dan bergaul dengan
segaul-gaulnya. Sori pembicaraan ini memang tidak ada arahnya.
Rasanya kalo inget Banda Neira itu mak ces di hati.
Peace, love, and natural. Never bored to see the sparkling ocean when beautiful
sun bear down upon the water. Manjat pohon mangga
miring depan pantai, papan cintailah lautku cintailah negriku, belajar memanjat
pohon kelapa sama anak-anak pantai, goyang-goyangin jembatan rusak di dermaga,
naik kole-kole kecil sambil tos sama air laut, nggak pernah bosen liat dermaga
lontor yang airnya hijau tosca itu, mecahin biji kenari, bikin manisan pala,
panen cengkeh, naik pokpok sambil ngeliat langit biru yang tak berbatas, makan
ikan laut t-i-a-p h-a-r-i, sarapan pentol di pagi hari, ngences liat abang2
hitam berotot, digelitikin sama school fish yang lucu banget, kangen
duduk-duduk sama anak-anak selo di Bapa Dul pu para-para, dipelototin mama
piara gara-gara sering ngilang malem-malem, kangen dipanggilin ‘KKN’ sama
bocah-bocah ingus abadi, makan pentolan alias baksonya orang sana yang segede
upil buto itu, joget sama orang-orang gila yang mulutnya udah bau neraka alias
mabok, jalan-jalan ke Neira yang banyak peninggalan bersejarah banget dan
rumah-rumah lucu yang Belanda banget cin. For
the first time in forever duduk
di kursinya Bung Hatta, berasa jadi superhero semenit.
Snorkeling
di belakang gunung api yang terumbu karangnya WAW, kapan lagi bisa
renang-renang sama anak hiu kecil-kecil yang lagi berteduh di Pantai Wali yang
airnya anget, bakar-bakar ikan kerapu merah sama ikan papua yang nggak berdosa
tiba-tiba dibakar gitu aja. Piknik ke Pulau Syahrir, pulau dimana diasingkannya
dulu Bung Syahrir itu sama kompeni Belanda. Tiba-tiba berasa jadi pahlawan
lagi. Naik ke Tanjung Seram yang kalo liat ke bawah, air lautnya bro bikin
mrebes mili. Kangen mantengin sunset di pantai yang senja jingganya bikin nggak
mau pulang. Satu lagi bro, perjalanan panjang mendaki Gunung Api di tengah laut
yang super duper mega kokoh tak tertandingi yang curamnya setengah mati,
giliran sampe di puncak langsung speechless bisa liat semua pulau di kepulauan
Banda yang AWSUM.
Ikut
jaga rumpon malem2 sama abang pelaut keren trus mabok semabok maboknya, nggak
bakal nyangka kalo yang namanya jaring ikan di rumpon itu bakal setengah mati
kaya gitu, for the first time in forever
lg bakar ikan di tengah lautan lepas di bawah cakrawala milky-way sambil nahan
muntah setengah mati. Bisa bertahan 3 jam diombang ambing sama dahsyatnya
gelombang air laut. Bro, ini tu berasa jadi nenek moyang bangeeeet.
Dear Banda Neira, thanks for every precious things you give, every wonderful sunset and adorable ocean i've never forget, and every greatful moment we've done. Banda, it’s
only a dot in map but all the things and memmories will never be forgotten. See you soon, someday.